Pagi hari saat matahari setengah
bangun bersama sinarnya yang menguning, berteman dengan secangkir kopi dan
sebatang rokok ditangan, sepertihalnya kebanyakan orang berkata hidup sungguh
sempurna, beda saat Petruk lakukan kegiatan pagi itu, dia hanya bisa menikmati
secangkir kopi dan sebatang rokok ditangan bertujuan agar dia tetap terjaga,
agar hidup yang akan dia jalani dihari itu tak sepahit secangkir kopi dan
sepanas api yang membakar sebatang rokok, dengan pikiran yang melayang jauh
seperti menyusun pazel bergambar mata uang, mengharapkan sebuah cara apa yang
akan dilakukan dihari ini agar baginda raja sri Kresna bisa bahagia hari ini.
Petruk menyadari bahwa baginda raja
sri Krena sedang berada dalam kondisi membinggungkan diri sendiri dan Rakyatnya
yang disebabkan sesuatu ketidak jelasan atas pola keberadaannya sebagai raja di
Mayapada. Sudah menjadi kewajiban sebagai punakawan bisa memberikan masukan dan
hiburan agar sang baginda dapat tersenyum kembali, walau terkadang semua yang
petruk lakukan sia-sia saja.
Secangkir kopi dan sebatang rokok
hapir habis tanpa dia bisa benar-benar menikmatinya karena pikiran yang tak
kunjung dapatkan jalan keluar disesatnya rimbun belantara hutan pikiran,
tiba-tiba sang Bagong datang dengan tembang dangdut yang lagi popular saat ini
memecahkan keheninggan pagi Petruk, “Kulo nuwun (Permisi)” lantang suara
bagong, “ono opo kang bagong isuk-isuk wes semeringah (ada apa mas bagong
pagi-pagi sudah berhati gembira)” petruk berucap sapa, “Ora eneng opo-opo,
pengen ae nyayi lagu sing popular nang kalangane cah enom saiki, opo onok
masalah karo lagu kuwi ta?” balas bagong,
petruk balas menjawab “yo, ora kang”, obrolan demi obrolan tercipta
diantara Petruk dan Bagong, hingga mereka terdiam sesaat hanya prihal ucapan
petruk yang mengelegarkan pagi tanpa hujan, ucapan itu adalah “kang bagong, aku
pengen pensiun dhadi punakawan kang, amargo aku rah iso terus gawe seneng
baginda, kang!!!”, tiba-tiba bagong berdiri dan berkata “sak jane, urip kuwi
mung diwei rong pilian, kuwe pilih sing endhi iku dadi dalan uripmu sesok, sing
laine mung iso deleng lakonmu iku piye, amanah sing dhadi cerito iku iso
diganti karo omong tok yo ra opo-opo, beres toh” Bagong mengakhiri kata-kata
itu dengan “wah, isuk-isuk ngene tuku pecel nang mak Tik, iki tepak cacingku
nang weteng wes demo koyok taun 98, wes tak tinggal sek awakmu”, keluarlah dia
dari perkarangan rumah petruk sambil menyayikan lagu seperti awal dia datang.
Tinggallah sendiri Petruk diberanda
rumahnya, sambil menyandarkan diri ditempat yang dia duduki dan berkata “bener
opo ora dalan urip sing tak lakoni iki, trus anak bojoku piye” sambil ambil
nafas dalam dan dia lepaskan dengan kencang, dia berkata “Gusti, paringi kulo
sabar, lan lapang dodo, omboh dalan rezeki, paringi anak bojo kulo bahagia dunia
akhirat”. Sontak petruk terbangun dalam lamunan kosongnya suara keras yang
mengemparkan lamunan petruk “kang, ayo iki wes jam piro, ojo ngelamun ae, ndang
budhal megawe” sontak petruk berdiri dan masuk kedalam rumah.
Sesaat petruk akan berangkat mengemban
tugas sebagai abdi baginda sri Kresna, sang istri berucap “kang, menungso wes
duwe dalan dewe-dewe, duwe alur cerito dewe-dewe, duwe karep berubah opo orah
kuwi hak menungso ne dewe, sing penting kang petruk ojo kapok ngemban amanah
sing diwei karo kanjeng gusti, sebab iku maknane kang petruk diciptakne, aku
lan anak-anakmu di ciptakne dhadi wong nang sebelahmu, yo duwe peran dhadi
penyeimbang uripmu kang, semangat kang, yakin barokah soko kanjeng gusti dhadi
investasi awak dewe nang akhirat”, dengan muka yang tanpa kegembiraan petruk
berkata untuk membalas obrolan sang istrinya “adinda, aku maturnuwun wes gelem
lan ikhlas dhadi semangat uripku nang dunyo iki, akang janji abdimu nang
keluarga iki dhadi panuntunmu nang surgone akhirat”, sambil memakai seragam
kebesaran yang diberikan oleh baginda sri Kresna, sang Petruk memantapkan
langkah hidup tuk mencari Barokah lilah hitaallah.
Memang tak semudah yang kita lihat dan kita gambarkan karna hidup hanya sebuah kiasan yang tersirat keindahannya saja, “sawang sing nawang” mudah bagi yang melihat sulit bagi yang menjalankan, ketika kita sebagai manusia bisa lebih menghargai hidup sesama manusia walau seburuk, sehebat dan sekecil apa yang manusia lakukan kita sama punya hati, pikiran dan masalah hidup, akan tetapi selama hidup yang sudah digariskan pada setiap manusia bisa memberi warna yang indah dan bahagia pada sesama manusia agar hidup lebih berarti, kita sebagai manusia kan menikmati hidup tuk lebih bersyukur.
**mohon maaf apabila ada salah
penulisan bahasa, ini adalah sebuah tulisan cerita, sosok didalamnya adalah
sebuah perumpamaan, tatanan bahasa yang tidak mengacu pada estetika penulisan
karena tulisan ini sebuah ungkapan dalam hati sang penulis, besar harapan ada
saran dan kritik didalamnya, terimakasih sudah membacanya, semoga bisa menjadi
hiburan dan mempunyai makna didalamnya, Wasalam.